Kamis, 19 Februari 2015

album bakti sosial KSR-PMR

 membersihkan halaman sekitar

 ayo adek PMR,semangat !

 KSR gak mau ketinggalan

awalnya nyabut rumput 

PMI selalu di hati 

 angkut-angkut rumput

PMR mulai in action tu 

AYO,,cangkul-cangkul 

bersama lebih asyik ni....rumpinya :D 

ketua PMR, sampahnya sapu...ayo sapu... 

pada semangat tu anak-anak (ucap bapak) 

eksis dulu bersama RELAWAN

BAKTI SOSIAL KSR PMI STAIN bersama PMR SMA 2 Pekalongan

Divisi Pengabdian Masyarakat - Salah satu bentuk kegiatan nya adalah bakti sosial ; bersih lingkungan dan tanam pohon. Bakti sosial atau lebih dikenal sebagai baksos merupakan salah satu kegiatan wujud dari rasa kemanusiaan antara sesama manusia. Bakti Sosial merupakan suatu kegiatan  dimana dengan adanya kegiatan ini kita dapat merapatkan kekerabatan kita.Bakti sosial diadakan dengan tujuan – tujuan tertentu.Bakti sosial antar warga yang dilakukan oleh mahasiswa adalah untuk mewujudkan rasa cinta kasih , rasa saling menolong,rasa saling peduli mahasiswa kepada masyarakat luas yang sedang membutuhkan uluran tangan mereka. Kegiatan ini berlangsung pada hari Minggu (15/2) di desa pesona Griya Indah Panjang kecamatan Pekalongan Utara. Kegiatan diadakan oleh KSR PMI Unit STAIN Pekalongan bersama anggota PMR Wira SMA 2 Pekalongan. Warga setempat antusias dalam kegiatan.  Semoga kegiatan ini dapat berkelanjutan dan dapat membekas di hati masyarakat.aminn..
AYO...BANGGA JADI RELAWAN

Kamis, 12 Februari 2015

lagu Mars PMI dan Bhakti Remaja

Lirik Mars PMI

Palang Merah Indonesia
Sumber kasih umat manusia
Warisan luhur, nusa dan bangsa
Wujud nyata pengayom Pancasila

Gerak juangnya keseluruh nusa
Mendarmakan bhakti bagi ampera
Tunaikan tugas suci tujuan PMI
Di Persada Bunda Pertiwi

Untuk umat manusia
Di seluruh dunia
PMI menghantarkan jasa


Lagu yang pertama kali dikumandangkan tahun 1967 ini adalah ciptaan Mochtar H. S. yang adalah seorang tokoh PMI yang terkemuka waktu itu. Lagu ini juga menandai pembentukan Palang Merah Remaja (PMR) Kudus. PMR Kudus merupakan yang kedua di Indonesia setelah Bandung. Bisa dibayangkan, PMI Kudus pada masa itu adalah cabang terkemuka di Indonesia.

Lirik Bakti Remaja

Palang Merah Remaja Indonesia warga Palang Merah sedunia
Berjuang berbakti penuh kasih sayang untuk rakyat semua
Bekerja dengan rela tulus ikhlas untuk yang tertimpa sengsara
Puji dan puja tidak dikejar… mengabdi tuk sesama…

Putra Putri Palang Merah Remaja Indonesia
Abdi rakyat sedunia luhur budinya
Putra Putri Palang Merah Remaja Indonesia
Abdi rakyat sedunia mulya citanya (N.D Red)

Minggu, 08 Februari 2015

mengenal lebih dekat dengan PMI


Slogan Setetes darah Anda, nyawa bagi sesama
Pembentukan 17 September 1945 (umur 69)
Jenis Perhimpunan atau Asosiasi
Badan hukum Organisasi Kemanusiaan
Kantor pusat Jalan Jenderal Gatot Subroto Kav. 96 Jakarta Jakarta, Indonesia
Wilayah layanan Indonesia
Bahasa resmi Indonesia
Ketua Umum Muhammad Jusuf Kalla
Organ utama International Red Cross and Red Crescent Movement
Organisasi induk Komite Internasional Palang Merah
International Federation of Red Cross and Red Crescent Societies
Situs web http://www.pmi.or.id/

PALANG MERAH INDONESIA


Palang Merah Indonesia (PMI) adalah sebuah organisasi perhimpunan nasional di Indonesia yang bergerak dalam bidang sosial kemanusiaan.
PMI selalu mempunyai tujuh prinsip dasar Gerakan Internasional Palang Merah dan Bulan sabit merah yaitu kemanusiaan, kesamaan, kesukarelaan, kemandirian, kesatuan, kenetralan, dan kesemestaan. Sampai saat ini PMI telah berada di 33 PMI Daerah (tingkat provinsi) dan sekitar 408 PMI Cabang (tingkat kota/kabupaten) di seluruh Indonesia.
Palang Merah Indonesia tidak memihak golongan politik, ras, suku ataupun agama tertentu. Palang Merah Indonesia dalam pelaksanaannya juga tidak melakukan pembedaan tetapi mengutamakan korban yang paling membutuhkan pertolongan segera untuk keselamatan jiwanya.
SEJARAH
Berdirinya Palang Merah di Indonesia sebetulnya sudah dimulai sebelum Perang Dunia II, tepatnya 12 Oktober 1873.Pemerintah Kolonial Belanda mendirikan Palang Merah di Indonesia dengan nama Nederlandsche Roode Kruis Afdeeling Indiƫ (NERKAI) yang kemudian dibubarkan pada saat pendudukan Jepang.[2]
Perjuangan mendirikan Palang Merah Indonesia (PMI) diawali 1932. Kegiatan tersebut dipelopori Dr. R. C. L. Senduk dan Dr. Bahder Djohan dengan membuat rancangan pembentukan PMI. Rancangan tersebut mendapat dukungan luas terutama dari kalangan terpelajar Indonesia, dan diajukan ke dalam Sidang Konferensi Narkai pada 1940, akan tetapi ditolak mentah-mentah.
Rancangan tersebut disimpan menunggu saat yang tepat. Seperti tak kenal menyerah pada saat pendudukan Jepang mereka kembali mencoba untuk membentuk Badan Palang Merah Nasional, namun sekali lagi upaya itu mendapat halangan dari Pemerintah Tentara Jepang sehingga untuk yang kedua kalinya rancangan tersebut kembali disimpan.
Proses pembentukan PMI dimulai 3 September 1945 saat itu Presiden Soekarno memerintahkan Dr. Boentaran (Menkes RI Kabinet I) agar membentuk suatu badan Palang Merah Nasional.
Dibantu panitia lima orang yang terdiri dari Dr. R. Mochtar sebagai Ketua, Dr. Bahder Djohan sebagai Penulis dan tiga anggota panitia yaitu Dr. R. M. Djoehana Wiradikarta, Dr. Marzuki, Dr. Sitanala, Dr Boentaran mempersiapkan terbentuknya Palang Merah Indonesia. Tepat sebulan setelah kemerdekaan RI, 17 September 1945, PMI terbentuk. Peristiwa bersejarah tersebut hingga saat ini dikenal sebagai Hari PMI.
Peran PMI adalah membantu pemerintah di bidang sosial kemanusiaan, terutama tugas kepalangmerahan sebagaimana dipersyaratkan dalam ketentuan Konvensi-Konvensi Jenewa 1949 yang telah diratifikasi oleh pemerintah Republik Indonesia pada tahun 1958 melalui UU No 59.
Sebagai perhimpunan nasional yang sah, PMI berdiri berdasarkan Keputusan Presiden No 25 tahun 1950 dan dikukuhkan kegiatannya sebagai satu-satunya organisasi perhimpunan nasional yang menjalankan tugas kepalangmerahan melalui Keputusan Presiden No 246 tahun 1963.
KEMANUSIAAN dan KERELAWANAN
Dalam berbagai kegiatan PMI komitmen terhadap kemanusiaan seperti Strategi 2010 berisi tentang memperbaiki hajat hidup masyarakat rentan melalui promosi prinsip nilai kemanusiaan, penanggulangan bencana, kesiapsiagaan penanggulangan bencana, kesehatan dan perawatan di masyarakat, Deklarasi Hanoi (United for Action) berisi penanganan program pada isu-isu penanggulangan bencana, penanggulangan wabah penyakit, remaja dan manula, kemitraan dengan pemerintah, organisasi dan manajemen kapasitas sumber daya serta humas dan promosi, maupun Plan of Action merupakan keputusan dari Konferensi Palang Merah dan Bulan Sabit Merah ke-27 di Jenewa Swiss tahun 1999.
Dalam konferensi tersebut Pemerintah Indonesia dan PMI sebagai peserta menyatakan ikrar di bidang kemanusiaan.
Hal ini sangat sejalan dengan tugas pokok PMI adalah membantu pemerintah Indonesia di bidang sosial kemanusiaan terutama tugas-tugas kepalangmerahan yang meliputi: Kesiapsiagaan Bantuan dan Penanggulangan Bencana, Pelatihan Pertolongan Pertama untuk Sukarelawan, Pelayanan Kesehatan dan Kesejahteraan Masyarakat, Pelayanan Transfusi Darah. Kinerja PMI dibidang kemanusiaan dan kerelawanan mulai dari tahun 1945 sampai dengan saat ini antara lain sebagai berikut:
  1. Membantu saat terjadi peperangan/konflik. Tugas kemanusiaan yang dilakukan PMI pada masa perang kemerdekaan RI, saat pemberontakan RMS, peristiwa Aru, saat gerakan koreksi daerah melalui PRRI di Sumbar, saat Trikora di Irian Jaya, Timor Timur dengan operasi kemanusiaan di Dilli, pengungsi di Pulau Galang.
  2. Membantu korban bencana alam. Ketika gempa terjadi di Pulau Bali (1976), membantu korban gempa bumi (6,8 skala Richter) di Kabupaten Jayawijaya, bencana Gunung Galunggung (1982), Gempa di Liwa-Lampung Barat dan Tsunami di Banyuwangi (1994), gempa di Bengkulu dengan 7,9 skala Richter (1999), konflik horizontal di Poso-Sulteng dan kerusuhan di Maluku Utara (2001), korban gempa di Banggai di Sulawesi Tengah (2002) dengan 6,5 skala Richter, serta membantu korban banjir di Lhokseumawe Aceh, Gorontalo, Nias, Jawa Barat, Tsunami di Aceh, Pantai Pangandaran, dan gempa bumi di DI Yogyakarta dan sebagian Jawa Tengah. Semua dilakukan jajaran PMI demi rasa kemanusiaan dan semangat kesukarelawanan yang tulus membantu para korban dengan berbagai kegiatan mulai dari pertolongan dan evakuasi, pencarian, pelayanan kesehatan dan tim medis, penyediaan dapur umum, rumah sakit lapangan, pemberian paket sembako, pakaian pantas pakai dan sebagainya.
  3. Transfusi darah dan kesehatan. Pada tahun 1978 PMI memberikan penghargaan Pin Emas untuk pertama kalinya kepada donor darah sukarela sebanyak 75 kali. Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 1980 telah diatur tentang tugas dan peran PMI dalam pelayanan transfusi darah. Keberadaan Unit Transfusi Darah PMI diakui telah banyak memberikan manfaat dan pertolongan bagi para pasien/penderita sakit yang sangat membutuhkan darah. Ribuan atau bahkan jutaan orang terselamatkan jiwanya berkat pertolongan Unit Transfusi Darah PMI. Demikian pula halnya dengan pelayanan kesehatan, hampir di setiap PMI di berbagai daerah memiliki poliklinik.
 DIVISI/BIRO
Sesuai dengan keputusan PP PMI No: 176/KEP/PP PMI/X/2010 markas pusat PMI memiliki 14 Divisi/Biro/Unit yang terdiri dari:
  • Divisi Kelembagaan
  • Divisi Penanggulangan Bencana
  • Divisi Kesehatan
  • Divisi Relawan
  • Divisi Kerjasama dan Pengembangan Sumber Daya
  • Biro Perencanaan dan Hukum
  • Biro Kepegawaian
  • Biro Keuangan
  • Biro Umum
  • Biro Humas
  • Unit Pendidikan dan Pelatihan
  • Unit Poliklinik
  • Unit IT
  • Unit Satuan Kerja Audit Internal (N.D RED)

apa sich relawan masa depan ???

 SALAM KEMANUSIAAN ! SIAMO
Palang Merah Remaja (PMR) adalah wadah pembinaan dan pengembangan anggota remaja PMI, yang selanjutnya disebut PMR.Terdapat di PMI Kabupaten/Kota di seluruh Indonesia, dengan anggota lebih dari 3 juta orang.
Anggota PMR merupakan salah satu kekuatan PMI dalam melaksanakan kegiatan-kegiatan kemanusiaan di bidang kesehatan dan siaga bencana, mempromosikan Prinsip-Prinsip Dasar Gerakan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah Internasional, serta mengembangkan kapasitas organisasi PMI.Terbentuknya Palang Merah Remaja dilatarbelakangi oleh terjadinya Perang Dunia I (1914–1918) pada waktu itu Austria sedang mengalami peperangan. Karena Palang Merah Austria kekurangan tenaga untuk memberikan bantuan, akhirnya mengerahkan anak-anak sekolah supaya turut membantu sesuai dengan kemampuannya. Mereka diberikan tugas-tugas ringan seperti mengumpulkan pakaian-pakaian bekas dan majalah-majalah serta Koran bekas. Anak-anak tersebut terhimpun dalam suatu badan yang disebut Palang Merah Pemuda (PMP) kemudian pada tanggal 1 Maret 1950 berdirilah Palang Merah Remaja secara resmi di Indonesia
Dalam perjalanannya PMR mengalami perkembangan yang sangat positif, dan untuk membangun serta mengembangkan karakter PMR yang berpedoman pada Prinsip Kepalangmerahan yang siap menjadi relawan masa depan. Untuk menjawab hal tersebut maka dibuat sebuah konsep Manajemen PMR merupakan proses pembinaan dan pengembangan anggota remaja PMI agar dapat mendukung peningkatan kapasitas organisasi dan pelayanan PMI.
Hal ini senada dengan kebijakan PMI dan Federasi Internasional Palang Merah dan Bulan Sabit Merah (IFRC) tentang Remaja yang menyebutkan bahwa; Pertama, Remaja merupakan prioritas pembinaan, baik dalam keanggotaan maupun kegiatan kepalangmerahan. Kedua, Remaja berperan penting dalam pengembangan kegiatan kepalangmerahan. Ketiga, Remaja berperan penting dalam: perencanaan, pelaksanaan kegiatan, dan proses pengambilan keputusan untuk kegiatan PMI. Keempat, Remaja adalah kader relawan, dan kelima, Remaja calon pemimpin Palang Merah masa depan.
Dalam manajemen PMR, siklus pembinaan dimulai dari Perekrutan  untuk menambah jumlah anggota, Pelatihan untuk menguatkan karakter, Tri Bhakti PMR sebagai bentuk implementasi dari pelatihan yang didapat, Pengakuan dan Penghargaan menjadi penting karena memotivasi PMR agar tetap bersama dengan PMI, Pemantauan dan Evaluasi untuk mengetahui apakah anggota PMR telah melaksanakan hak dan kewajibanya dengan tepat serta jejaring dan kerjasama.
Penting Pembinaan PMR
Pembinaan anggota PMR baik disekolah maupun luar sekolah mulai dari pola rekruitmen - pelatihan - kegiatan paska pelatihan (Tri Bakti) sampai dengan pengembangan kapasitas (Pengakuan dan Penghargaan) telah memberikan gambaran sisi positif yang didapatkan jika bergabung menjadi anggota PMR. Peningkatan kapasitas dalam hal wawasan, pengetahuan dan juga ketrampilan tentu akan menjadi bekal yang sangat bermanfaat baik untuk diri pribadi maupun ketika terjun di masyarakat.(N.D RED)